Lalu Zohri, Dari NTB Rebut Gelar Juara Dunia

Lalu Zohri, Dari NTB Rebut Gelar Juara Dunia
Lalu Zohri, Dari NTB Rebut Gelar Juara Dunia
BANDAR BOLA TERPERCAYA - Tidak pernah ada dalam mimpi saya untuk jadi atlet atletik. Jika dulu tidak ada Ibu Rosida, maka saya tidak akan kenal dunia atletik. Mungkin yang saya kenal hanya sepak bola.
Jika saya berkarier sebagai pemain sepak bola, maka mungkin saya tak akan bisa sampai di titik ini. Tidak bisa menikmati suasana enak di Jakarta.
Saya bisa masuk TNI, jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Bila memilih sepak bola, mungkin situasi yang ada tidak enak seperti sekarang.
Bu Rosida itu guru olahraga di SMP saya. Waktu main sepak bola, posisi saya adalah bek sayap
Seminggu sebelum perlombaan saya baru latihan. Saat pertandingan tiba, saya belum tahu apa-apa. Peserta lain pemanasan, saya diam saja. Dalam pikiran saya, pokoknya masuk lapangan langsung lari.
Soal teknik di startbox juga saya sama sekali tidak tahu, namun saya memang sempat diajari cara start. Karena saya diberitahu bahwa bila start terlalu cepat bisa didiskualifikasi, maka saya berpikir lebih baik start lambat saja. Waktu itu saya langsung juara, namun jarak dengan lawan tipis.
Banyak proses yang saya lalui, banyak kejuaraan yang saya ikuti, hingga akhirnya saya sampai di Jakarta. Saya ke Jakarta di akhir 2017 setelah memecahkan rekor di Kejuaraan Nasional di Papua.
Tak Mampu Beli Sepatu
Dalam perjalanan karier saya, saya masih memiliki kesenangan terhadap sepak bola. Namun saya pikir-pikir, saya bisa dapat apa dari sepak bola. Mungkin juara satu bisa dapat uang Rp10 juta, tetapi dibagi berapa orang, itu mungkin ada 15 orang di tim.
Lalu Zohri merupakan atlet masa depan Indonesia di cabang atletik. (CNN Indonesia/Andry Novelino) Kalau atletik, waktu pertama juara di Kejurda, dapat bonus dari kabupaten Rp2 juta. Menurut saya saat itu 'Gila, gede sekali untuk anak kelas 3 SMP.' Saat itu saya sebenarnya ingin punya motor, tetapi uangnya kan tidak cukup, jadi saya kasih ke kakak untuk disimpan.
Tiba di Jakarta tak berarti semuanya berjalan lancar. Baru seminggu latihan di Jakarta, sepatu latihan sudah sobek. Saya tidak enak jika langsung minta ke PASI karena masih baru.
Mengukir Nama di Finlandia
Pada Tes Event Asian Games saya bisa lari 10,22 detik, jadi saya masuk tim inti estafet senior. Setelah momen itu, saya juga tak mendapat target di Kejuaraan Dunia Junior.
Lalu Zohri sukses merebut medali emas juara dunia U-20 2018. (CNN Indonesia/Christie Stefanie) Saya berhasil lolos limit waktu Kejuaraan Dunia Junior saat tampil di Jepang. Tidak ada target pada saya. Pokoknya tanding saja, lari saja, cari pengalaman. Alhamdulillah, hasilnya tidak menyangka!
Di babak final, saat 80 meter pertama saya sudah fokus, sedangkan di 10 meter terakhir saya sempat menengok ke belakang. Saya sering menengok karena itu kebiasaan saya.
Saya tak menyangka bahwa saya ada di depan. Namun setelah selesai lomba dan nama saya ada di paling atas. Ya Allah saya tak percaya sama sekali!. Nangis saya langsung.
Usai menang pada balapan kejuaraan dunia sebenarnya saya bukan kebingungan mencari bendera, saya takut diwawancara pakai bahasa Inggris. Saya mau kabur sebelum akhirnya dipanggil ofisial.
Malam harinya, saya tidak bisa tidur karena saking bangganya. HP saya berbunyi terus, ada telepon dari wartawan. Rasa bangga jadi juara dunia junior luar biasa.
Setelah itu, saya tampil di Asian Games dan meraih medali perak di nomor estafet. Bagi saya 2018 itu adalah tahun kebanggaan saya. Dari sana, saya bisa mengubah hidup saya.
Dalam karier saya, mungkin tak ada yang namanya titik terendah. Karena sejauh kita melangkah, dari langkah kecil pertama, semakin ke sini Alhamdulillah semakin berprestasi.
Saat ini catatan waktu terbaik saya 10,18 detik. Saya punya target untuk bisa lari di kisaran sembilan detik. 1-2 tahun lagi saya yakin saya bisa.


No comments:
Note: Only a member of this blog may post a comment.